Pertemuan antara kiki & hihi
June 6th, 2006 by tuwloh
Hari itu kiki merencanakan pertemuan dengan teman
lamanya. Teman yang pernah ia kenal selama beberapa bulan saat singgah di
negeri jiran untuk mengikuti suatu pelatihan. Namanya hihi. Dulu, hihi secara
kebetulan adalah teman sekamar dengan kiki di sana. Melewati hidup bersama selama berbulan-bulan, tidur
sekamar, makan bersama, membuat segalanya yang bermula tidak kenal menjadi
terbiasa dan biasa.
Pelatihan itu usai sudah. Satu persatu peserta dari Indonesia kembali ke tanah air. Hihi ingin pulang lebih awal.
Akhirnya hihi pulang bersama bang amran, yang juga ada di sana saat itu dan ternyata sudah menyelesaikan jenjang sarjananya. Secara hormat dan
santun, kami memanggilnya dengan sapaan abang, karena lebih tua dari kami. Sedangkan
kiki masih ingin menikmati suasana hangat di negeri tersebut. Hingga akhirnya
ia habiskan waktunya selama hampir setahun di sana. Meskipun akhirnya kiki bertukar pengalaman yang sedikit pahit berlama-lama di sana,
karena lingkungan yang ia singgahi ternyata tidak cukup nyaman dan juga tidak
cukup harmonis. Begitulah cerita awalnya.
Tiba di tanah air, si hihi mendaftarkan diri di sebuah
perguruan tinggi swasta di jogjakarta. Dia mengambil program studi Teknik Informatika. Pada
tahun berikutnya, barulah si kiki
memulai kuliah di kota asalnya, pekanbaru. Tak begitu jelas siar kabar
teman-teman yang dulu pernah berkenalan di negeri jiran, walaupun sesekali
masih berhubungan via handphone. Dua tahun berlalu, kabar dari jogjakarta tidak begitu menyedihkan. Hihi bisa mengikuti
perkuliahan dengan baik, terbukti dengan hasil prestasinya mencapai IP 3,..
(tiga koma). Walau dalam tiap semesternya selalu mengalami laju prestasi yang
naik turun. Hihi pernah mendapat IP 3,42. juga pernah mendapat IP 3,25. Yang
cukup mengagumkan adalah saat hihi mencapai IP 3,71. ya…begitulah….naik turun +_+
Tapi, entah mengapa mahasiswa dari pekanbaru, si kiki,
tiba-tiba mengguncang kabar, bahwa ia telah pindah kuliah di Jakarta. Hou…. Cukup mengejutkan. Ada apa dengan kiki?
Cowok berpenampilan macho, rambut cepak, tubuh tinggi,
berkulit sawo matang ini berbagi cerita pada hihi, kalau dia sudah kuliah di Jakarta dan tinggal bersama oomnya alias pamannya. Dia juga
mengatakan kehidupannya sekarang lebih rapi. Dulu, saat di negeri jiran, ia
terkenal dengan ketidaktahuannya akan agama. Kini, tinggal bersama oomnya, kiki
sedikit mengerti tentang ibadah. Hanya saja, dengan jujur ia bercerita pada
hihi, bahwa ia semakin kuat menghisap rokok. Padahal dulunya, sepengetahuan
hihi saat atinggal bersama di negeri jiran, kiki adalah sosok pemuda tanpa
rokok. Pernah saat itu, para peserta latihan bermain ke pantai. Di situ kiki
mencoba sebatang rokok jenis biasa, jenis mild. Tampak sekali bahwa ia memang
bukan perokok. Hisapannya sangat-sangat polos. Tidak sekuat hisapan para
pecandu. Tapi kini, hihi melihat dengan dua bola matanya sendiri, bahwa kiki
menghisap kuat rokok jenis gudang garam!
Tahun 2006 menjadi tahun berpikir bagi warga jogjakarta. Termasuk hihi yang sedang studi di
kota pelajar tersebut. Gempa dahsyat sebesar 5,9 pada skala
richter telah membuat lara isi
kota jogja. Tepatnya di bantul, rumah-rumah telah menjadi
puing-puing yang tak bernyawa. Semuanya rata dengan tanah. Walaupun ada
beberapa bangunan di bantul yang masih berdiri dengan retak-retak. Seperti
gedung kampus si hihi, yang memang berada di bantul. Ia masih berdiri, tapi
runtuhan pian-pian dan eternit tetap membuat keluarga besar kampus itu menjadi
sesak. Akhirnya kampus meliburkan pegawai dan karyawan serta mahasiswanya
hingga tanggal 10 Juni 2006. Semoga kondisi jogjakarta segera membaik. Amin……
Tak hanya kampus itu saja yang meliburkan perkuliahannya.
Kampus lain di jogjakarta pun sebagian besar membuat jeda proses pendidikan
dengan mengundurkan jadwal kuliah, yang sebenarnya sudah memasuki masa ujian
akhir, dalam rentang waktu yang sama dengan kampus hihi, yaitu sampai tanggal 10
Juni 2006.
Melihat kondisi seperti ini, hihi yang berpikir jika ada
di jogjakarta akan membuat repot orang, ia memutuskan untuk pulang
mencari tempat aman, sama seperti yang dilakukan teman-teman kampusnya, supaya
dapat menenangkan diri dari rasa terguncang saat peristiwa gempa itu.
Semarang menjadi kota pertama yang ia injak sebagai tempat menenangkan diri.
Tak berpikir panjang, hihi ingin bertemu orangtuanya di Jakarta. Akhirnya hihi melanjutkan perjalanan ke
kota metropolitan itu.
Sesampai di Jakarta, hari-hari yang dilewati di sana membuat diri hihi menjadi lebih baik. Meski terkadang,
rasa terguncang oleh gempa masih menghantuinya. Entah mengapa ada perasaan
seperti itu? Semoga diri hihi lebih kuat……..
Kirim-kirim SMS (sort
message service) dengan teman pun hihi lakukan. Menanyai kabar teman di
jogjakarta dan juga memberitahu kabar diri hihi kepada teman-temannya
di seluruh penjuru tanah air. Termasuk kepada kiki, hihi juga memberitahukan
kabar dirinya.
Hihi yang saat itu memang tengah berada di Jakarta, diajak oleh kiki untuk bertemu melepas rindu.
Ditulisnya dalam pesan singkat yang ditujukan kepada hihi, si kiki mengajak
bertemu di kampusnya di Jakarta Selatan. Hihi pun membalas pesan tersebut
dengan bertanya kepada kiki:
“kul hr pa za?da jdwl kul yg pagi g, biar hihi naek angkotN
enak, klo siang panas…”.
Pesan singkat di atas, seperti bentuk SMS yang lain, memang
kata-katanya disingkat, maksud isinya adalah hihi menanyakan jadwal kuliah kiki
hari apa, kemudian hihi juga menanyakan ada jadwal kuliah yang pagi nggak. Hihi
berharap jawabannya ada, karena ingin berangkat pagi supaya lebih adem di dalam
angkot.
Pada hari yang sama, yaitu Sunday, berselang beberapa menit, Kiki pun memberi balasan:
“besok pagi ditunggu, friend!”
Ya…perputaran bumi pada porosnya telah membuat perpindahan
waktu dari malam menjadi siang. Hari berganti, si hihi menyambut pagi. Meski
telat bangun, hihi menyegerakan diri untuk sholat shubuh. Dengan niat ingin
bertemu teman lama di pagi hari, maka hihi langsung gerak cepat, hihi langsung
nyantap sarapan. Kemudian mempersiapkan diri dan berangkat sekitar jam 8.
Naek angkot jurusan SENEN. Dari sana langsung ke BLOK M. Kemudian hihi mencari metro mini 69,
untuk mencapai tujuan akhir. Hihi pun menaiki metro mini yang sudah dikejarnya
di sekitar terminal BLOK M.
Panas…!
Tapi tak apalah. Kalau berkeringat bisa dilap pakai sapu
tangan. Kalau tidak bawa, bisa beli tisu. Iya kan……..
Di dalam metro mini yang cukup panas itu, hihi dengan
sedikit waswas, karena terlalu sering mendengar ocehan orang-orang yang
mengatakan naik bis di Jakarta itu bahaya karena banyak copet, mencoba
mendekati seorang ibu yang saat itu sedang duduk bersama seorang putrinya. Hihi
pun bertanya:
“ini lewat kampus ya bu?”
Ibu itu langsung menjawab:
“oiya, ini nanti lewat kok”, diakhiri senyuman oleh ibu itu.
Cukup jauh…..!
Kutengok ibu tadi, yang sepertinya ingin turun. Ibu itu
melihat-lihat bangunan di kanan dan kiri jalan. Mencari-cari. Tiba-tiba ibu itu
berkata:
“itu kampusnya, mas!”
oh, terkejutnya si hihi. Dengan penuh rasa terima kasih,
hihi berkata kepada ibu itu:
“o….itu ya bu”.
Tanpa pikir-pikir, hihi pun turun dari angkot. hihi
kembali memencet tombol-tombol di handphonenya, mengirim pesan kepada kiki
untuk memberitahu bahwa dirinya sudah sampai di depan gerbang kampus.
Setelah melalui tanya-jawab dalam SMS, akhirnya hihi
bertemu dengan kiki. Entah kalimat apa yang terucap oleh kiki kali pertama
saat itu. Kiki pun berjabat tangan dengan teman lamanya, dengan
gaya seperti jabat tangan pemuda lainnya, sembari menanyakan
kabar satu sama lain. Kiki pun mengajak hihi ke kantin kampusnya untuk
menengguk minuman, menghilangkan haus.
Dalam perjalanan ke kantin, kiki bercakap-cakap memberi
komentar terhadap penampilan hihi saat itu.
Seperti ini percakapan yang berlangsung saat itu:
Kiki : “tambah
gemuk aja, hi”
Hihi : “oh ya,
makasih, dirimu makin berotot aja kelihatannya….atau makin kurus ya?”
Kiki : “ya
ginilah, hi. Eh hi, gimana kampus lu?”
Hihi : “jogja kena
gempa. Paling parah di bantul. Gedung kampusku di sana.
Tapi masih berdiri”
Kiki :
“retak-retak nggak?”
Hihi : “ya, ada
yang retak-retak, tapi nggak sampai runtuh”
Hihi pun belum begitu sadar bahwa dirinya telah bertemu
kembali dengan teman lamanya. Oleh karena itu, ia ingin meyakinkan dirinya
bahwa ia benar-benar sedang berjalan dengan teman lamanya, dengan mengeluarkan
celotehan ini:
Hihi : “ini
kiki, kan?”
Sambil memutar tubuh kiki 45 derajat, hihi memastikan. Hihi
pun akhirnya yakin.
Hihi :
“o………..iya….he….”
Kiki : “kos
gimana, hi?”
Hihi : “oh,
rumahku nggak pa-pa. kan ada di sleman. Mungkin kalo di bantul ikut hancur”
Kiki pun menunjuk ke arah sebuah bangunan. Ternyata itu
kantin. Dengan baiknya, kiki menawarkan minuman.
Kiki : “minum
apa, hi?”
Hihi : “oh…sama
aja lah ama lu”
Kiki : “samanya
apa?”
Hihi : “iya
dech, teh botol juuga boleh”
Kiki pun memesan minuman di kantin tersebut. Datanglah
minuman itu. Seteguk air berasa teh pun menyegarkan kembali tubuh hihi.
Obrolan berlanjut. Si kiki tak henti-hentinya ingin tau kabar
hihi. Kiki terus-menerus mengeluarkan pertanyaan yang harus dijawab oleh hihi.
Seperti interogasi, man!
Pertanyaan-pertanyaan yang menyerupai deretan gerbong
kereta api itu satu persatu dijawab oleh hihi. Hingga akhirnya, tiba-tiba kiki
mengeluarkan kesimpulan. Ya….kesimpulan yang mungkin ditunggu-tunggu. Ini dia
pernyataan yang keluar dari mulut kiki, yang ditampilkan per potong kalimat.
Kiki : “kok
kayak gitu seh, hi. Maen-maen donk, jangan di rumah aja”
Kiki : “mau
jadi apa entar!”
Kiki : “entar
disuruh keluar-keluar, nggak tau jalan lagi”
Kiki : “udah 3
tahun, hi!!!”
Kiki : “masa’
nggak ada perubahan!?!?!?!”
Wow…..dalam hati hihi, betapa terkejutnya ia. Ia pun
melontarkan pertanyaan kepada kiki.
Hihi : “berubah
gimana, ki?”
Kiki : “orang tu
berubah tambah rusak. Ato tambah brutal, gitu”
Buju buneng…
Hihi : “enggak.
Tetep alim seperti yang dulu”
Dari kesemuanya ini, hihi pun berpikir, yang mana yang
benar…main-main keliling kota, mungkin biar gaul, biar tau jalan, biar tau
lingkungan de el el. Atau kah dengan kondisi alim seperti yang dulu, selalu di
dalam rumah tiap malamnya, tapi kurang begitu mengenali lingkungan, tidak
meliarkan diri ini sudah benar. Haruskah hihi memilih?
Memang orang diciptakan dengan berbagai kemampuan nilai
nurani yang berbeda-beda. Orang juga diciptakan dengan kadar sosial yang
tingkatnya berbeda-beda pula. Mungkin kiki merasa kecewa atas ketidakadanya
perubahan pada diri hihi yang seharusnya lebih bisa bersosialisasi. Lebih gaul.
Ya….mau apa lagi….
Detik-detik terakhir menjelang perpisahan kembali dua
insan dalam negeri yang dipertemukan dengan tidak sengaja di negeri seberang,
obrolan semakin ringan. Tidak ada lagi pertanyaan keingintahuan kiki terhadap
kabar hihi yang telah 3 tahun tak bersua. Obrolan di detik terakhir itu hanya
membicarakan fasilitas kampus dan semacamnya. Sempat si hihi balik bertanya
pada kiki:
Hihi : “dari
tadi kiki terus yang nanya, gantian hihi donk”
Kiki : “iya,
nanya apa?”
Hihi : “gimana
kabar kiki?”
Kiki : “buruk,
hi!”
Hihi : “buruk
gimana?”
Kiki :
“ya…sekarang tinggal di Jakarta sama oom nggak bebas. Nggak kayak dulu di pekanbaru. Bebas. Banyak teman yang bisa diajak main di sana”
Detik terakhir di kantin pun telah tiba. Dalam perjalanan
keluar gerbang kampus, sambil jalan, ngobrol juga.
Kiki : “bangunan
sebelah itu asrama, hi.”
Hihi : “Asrama
apa? Milik kampus?”
Kiki : “cewek.
Bukan milik kampus…”. Di situ texas,
hi!”
Hihi : “texas
maksudnya apa?”
Kiki : “bebas”
Hihi : “bebas
gimana?”
Kiki : “ya tamu
cowok boleh masuk kamar. Di jogja banyak yang texas juga kan,
hi?”
Hihi : “ya….”
Dalam hati, hihi tersenyum tertawa, lumayan dapat vocab baru
“texas”. Hihihi….
Perjalanan keluar gerbang kampus yang lumayan memakan
waktu itu, menyempatkan hihi melihat-lihat fasilitas kampus tempat kiki kuliah.
hihi bertanya hingga membuat kiki tertawa kecil:
Hihi : “ada
musholla, ki?”
Kiki : “oh,
ada, tu (sambil menunjuk ke arah
belakang). Mau mampir?”
Hihi :
“enggak…”
Kiki : “ya
kalo-kalo mau sholat apa gitu… (sambil senyum kecil)”
Hihi :
“ye….mana ada. Orang baru jam 11”
Sampai di depan gerbang, kiki menemani hihi menghadang
angkot untuk pulang, mencari metro mini jurusan blok m, nomer 69, yang memang
sangat banyak metro mini 69 yang lalu-lalang di situ.
Yang jelas…tiap perpisahan, bila ada umur panjang, pasti ada
pertemuan kembali 8-),